Selasa, 28 Maret 2017

CAPER BUS 2017 : Menjajal Pelari Pantura, Sinar Jaya All New Marquez 24RC


Setelah membaca berbagai cerita perjalanan bus yang kutemukan di blog para Bismania, akhirnya tangan ini pun gatal ingin mencurahkan pengalaman bis – bisan yang pernah aku lakukan. Bus adalah salah satu moda transportasi yang aku sukai. Mungkin karena sejak kecil aku sudah diajak oleh Orang Tuaku untuk berpergian menggunakan bus. Skip....
Sebenarnya ini adalah lanjutan dari cerita yang telah aku tulis sebelumnya yaitu “EDISI DADAKAN PERJALANAN BUS GOES TO JAKARTA WITH PUTERA MULYA P20”. Setelah disibukkan oleh pekerjaan dan kuliah selama sebulan terakhir ini, maka baru sempat aku lanjutkan cerita perjalanan ini. Karena memang kurang Afdol rasanya kalau tidak kutulis perjalanan pulangnya. heheee

SELASA, 14 FEBRUARI 2017
Hari itu adalah saatnya aku kembali pulang ke Klaten Jawa Tengah, setelah 2 hari ini aku berada di Jakarta untuk menghantarkan adikku ke tempat kerja barunya disini. Selesai packing barang bawaan sedari pagi, maka sekitar jam 1 siang aku berangkat ke pool Sinar Jaya Cibitung dihantarkan Bapakku. Ngapunten nggih Pak malah ngrepoti..
Beliau sudah meminta ijin kepada atasannya bahwa istirahat makan siang ini Dia akan pergi sebentar untuk menghantarkan aku. Perlu diketahui, sehari sebelumnya aku sudah pergi ke terminal Pulogebang berniat untuk membeli tiket. Tetapi kata agen Sinar Jaya disana, khusus untuk tiket jurusan Solo harus dibeli langsung di pool Cibitung. karena dengan harga yang murah yaitu dengan 100rb saja, jelas akan mengalahkan pasar dari PO. Bus yang lain di kelasnya. Maka pulanglah aku dihari itu dengan tangan hampa alias zonk. Di Pulogebang banyak yang menawarkan aku pilihan bus lainnya, tetapi hati ini sudah tidak bisa goyah karena ingin merasakan sensasi balapan SinJay 24RC itu (Padalah karena kantong lagi mepet juga sebenarnya). hahaaaa
Kembali ke cerita awal. setelah perjalanan 2 jam dari kontrakan Bapakku di Cipinang Melayu Jakarta Timur dan melawati macetnya Jakarta, akhirnya sampailah kami di pool Cibitung sekitar jam 3 sore. Langsung aku beli tiket kepada mbaknya disana, daaan akhirnya kudapatkanlah tiket sesuai dengan bus yang aku harapkan. Alhamdulillah.

(namanya kurang huruf “H”)

Jam berangkat adalah jam 4 sore, maka kami gunakan spare 1 jam itu untuk makan di warteg sebelah pool disana. Selesai makan, aku dan Bapak kembali ke dalam pool untuk menunggu bus. Hunfot dikit lah cekrek

(terlihat jetliner (paling kiri) yang masih kinyis-kinyis)

(ruang tunggu ber-AC)

Ada kejadian luar biasa yang aku alami disini, setelah 2 jam menunggu atau lebih tepatnya jam 5 sore bus yang akan membawaku pulang ke Jawa belum datang juga. Aku pun bertanya kepada mbak operator disana, dan Dia menjelaskan bahwa bus terjebak kemacetan di tol Jakarta. Wealah....
Akhirnya Bapakku pun pamit untuk kembali ke kerjaannya, niat beliau sebenarnya ingin menghantarkan aku untuk sampai bus nanti. Tapi setelah kujelaskan kalau mungkin bus masih akan lama tiba disini dan gak enak juga dengan atasannya, Beliau pun mengurungkan niatnya. Ngapunten melih nggih Pak
Waktu berlalu, tanpa terasa sekarang sudah hampir jam 7 malam tetapi bus yang aku tunggu belum datang.


(18.40 WIB)

Dan setelah kurang lebih 4 jam menunggu (ya benar 4 jam terhitung dari jam 3 sore tadi), pada pukul 18.59 WIB {sesuai dengan keterangan foto dibawah ini) bus Sinar Jaya 24RC yang aku tunggu sampai ngoyot ini datang juga.

(on board SinJay 24rc)


(on board SinJay 24RC)

Segera aku menuju kedalam bus, sampai lupa foto dari luar tadi karena ramainya kondisi pool kala itu. Akhirnya bakal merasakan juga bus yang katanya “banter” ini heheee
Setelah 10 menit berada di pool untuk menaikkan penumpang dan barang, Bus bermesin Hino RN 285, berkaroseri Jetbus HD2+ garapan Adi Putro, berAir Suspension, dan bertarif murah ini berangkat juga. Bismillah
Okupansi penumpang saat itu tidak penuh, mungkin tidak sampai 20 orang. Tapi bus ini tetap berangkat. Salut dah..
Aku merasa sangat nyaman berada di dalam bus 24RC ini. gronjalan yang sangat terasa ketika aku naik bus sebelumnya (bus menuju Jakarta di cerita sebelumnya), tidak aku rasakan di bus ini. Jelas lah, Air Suspension broooo hahaaa...
Mas Koko Bule memegang kendali saat ini, bus langsung ngejosss didalam kendalinya. Kondisi macet tak menghalanginya untuk bermanuver, benar-benar mantap. Baru pemanasan saja sudah seperti ini, gimana pas opera van pantura nanti pikirku. Mungkin ini juga karena mengejar ketertinggalan waktu selama 4 jam tadi jadi bus langsung dibawa mosak masik.
Hujan makin deras, tapi bus tetap berlari cepat diiringi lampu strobo depan berwarna hijau dan biru yang dinyalakan. Tidak kutemukan kendala seperti kabin bocor di bus ini, padahal diluar hujan sangat deras. Banyak bus yang diasapi dengan mudah oleh bus ini, seperti Murni Jaya SHD, Laju Prima SHD, mbak Rosin, dan masih banyak lagi. Ternyata memang benar kalau bus ini pelari sesuai dengan cerita yang aku baca di internet. Mungkin dinamakan All New Marquez dikarenakan larinya kencang bagai om Marquez di MotoGP itu. heheee
Jam 9 malam sampailah aku di RM Taman Selera Cikamurang. Disini aku sempatkan untuk mebeli makan dan hunfot bus. Tapi apalah daya kamera hp tuaku ini, maka hasil fotonya blur semua. Wayahe ganti iki wkwkwkwk


(Sinar Jaya 24RC)


(Sinar Jaya 24RC)

Kurang lebih 30 menit istirahat disini, setelah itu bus diberangkatkan kembali masih dalam kendali Mas Koko Bule. Disini juga dilakukan kontrolan, dan ada tambahan penumpang satu keluarga yang berjumlah 4 orang dan langsung duduk dibelakang. Karena memang banyak bangku kosong, maka sang bapak setelah mendapat persetujuan dari Mas Yatno (driver tengah) diperbolehkan untuk menekuk bangku depannya agar bisa untuk tidur slonjoran anak istrinya. Bus masih tetap dibawa mosak masik oleh Mas Koko, tapi tetap nyaman karena pembawaannya sangat halus dan minim hentakan. Sudah kawakan Mas Koko sepertinya...
Perjalanan di tol cipali ini kurasakan seperti naik kapal, karena hujan sangat deras dan bis dipacu kencang maka menghasilkan cipratan air yang menyerupai ombak di laut. Bahkan di daerah Brebes karena jalan banyak digenangi air hujan, sampai-sampai kendaraan arah berlawanan yang dekat pembatas tengah jalan terkena cipratan air dari bus ini. wkwkwkwk

RABU, 15 FEBRUARI 2017
Singkat cerita jam setengah 3 malam aku sudah sampai di pemberhentian kedua, yaitu RM Sari Rasa Kendal.



(RM Sari Rasa)

Segera aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan sekedar cuci muka agar hilang rasa kantuk ini. Disamping bus yang aku tumpangi, ada Mbak Rosin ekonomi yang sedang mengalami trouble di ban belakangnya.


(maaf blur)

Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena selang bebepapa menit datanglah mekanik dari Rosalia Indah dan langsung memperbaiki bus tsb. Mantap juga PO. Bus satu ini...

(mbak Rosin selesai diperbaiki)

Di RM ini terdapat bus lainnya seperti dalam foto diatas, dan bus SinJay 27RC jurusan Solo yang tadi berangkat dibelakangku malah sudah sampai disini duluan. Banter juga ternyata hmmmm.

(kiri : 24RC, Kanan : 27RC)

30 menit berlalu, akhirnya bus diberangkatkan kembali. Kali ini kemudi dikendalikan oleh Mas Yatno. Seperti driver sebelumnya, Mas Yatno ini juga tipikal yang mosak masik tapi halus dan minim hentakan. Sehingga aku di dalam bus pun bisa merasa ngantuk walaupun bis dipacu kencang. Hingga akhirnya rasa ngantuk yang didukung hawa AC yang dingin serta buaian halus Air Suspension di bus ini sukses membuatku tidur hingga Boyolali. Hahahh kebo tenan
Perkiraanku meleset, kemarin aku perkirakan sampai Solo kesiangan karena bus banyak kehilangan waktu akibat macet. Tetapi kenyataanya jam setengah 6 pagi aku sudah berada di Boyolali. Itupun aku terbangun karena suara hpku yang berbunyi, ternyata telepon dari Ibuku. Beliau memang sudah aku kabari dari kemarin kalau akau akan pulang, dan Beliau yang akan menjemputku di Delanggu nanti sekalian kulakan bahan makanan untuk pesenan arem-arem.
Pukul 5.50 WIB sampailah aku di Bandara Tirtonadi Solo, eh Terminal maksudnya. Perjalanan Cibitung - Solo menggunakan Sinar Jaya 24RC ini ditempuh dalam waktu 10,5 jam, itupun tanpa merubah etape perjalanan yang semestinya alias tetap berhenti di rumah makan untuk istirahat. Kurang banter gimana coba?

(Tirtonadi 15 Februari 2017)

Menurutku bus ini sangat recommended sekali, apalagi bagi anda yang PJKA dan menuntut ketepatan waktu silahkan sekali-kali mencoba bus Sinar Jaya 24RC ini.
Setelah berpamitan dengan Mas Koko Bule (sebelumnya Mas Yatno sudah turun di Pabelan), akupun turun dari bus dan menuju shelter jurusan Jogja untuk melanjutkan lagi perjalananku pulang. Pilihanku pagi itu adalah bus Mira.

(tiket bus MIRA)

Kali ini aku berhasil menerapkan trik yang diajarkan oleh Mbak Titik, salah satu agen bus di Delanggu. kemarin sebelum ke Jakarta aku bercerita kepadanya kalau dulu pas di Terminal Giwangan aku tidak boleh naik bus ATB Surabaya – Soloan dikarenakan aku menyebutkan tujuan pemberhentianku yang sebenarnya, saat itu aku bilang pada pak kernet Sugeng Rahayu mau ke Delanggu. Kata Mbak Titik seharusnya aku bilang mau ke Solo, karena untuk yang turun di pinggir jalan (bukan terminal) akan diserahkan ke bus bumelan. Begitulah kira-kira kesepakatan yang terjadi antara bus ATB dan bumelan di daerah Solo – Jogja ini. duh baru tau aku, benar-benar manusia kurang piknik diriku ini....
Pada saat naik bus Mira kemarin aku menyebutkan tujuanku mau ke Jogja, dan pada akhirnya diperbolehkan masuk oleh pak kernetnya. hhay
Kutebus tiket Solo – Delanggu dengan uang 5rb rupiah. murah jg ya, adem lagi. Sampai di Delanggu, Ibuku sudah berada di bangjo menungguku. setelah saliman dengan Beliau, aku goncengkan Ibuku menuju pasar untuk mampir membeli bahan makanan. Tiba dirumah sekitar jam setengah 8 pagi, kulanjutkan aktifitas pagi itu dengan sarapan jajanan pasar yang kubeli tadi. Setelah itu lanjut mandi, dan bobomania. hari itu aku tidak berangkat kerja, karena hari libur Nasional pemilu Gubernur Jakarta. Alhamdulillah

Berakhirlah cerita perjalanan bus kali ini, tunggu kisah selanjutnya ya.........

Kamis, 02 Maret 2017

CAPER BUS 2017

EDISI DADAKAN PERJALANAN BUS GOES TO JAKARTA WITH PUTERA MULYA P20, 12 FEBRUARI 2017

(Mukadimah)
Selamat datang di cerita perjalanan yang perdana saya tulis di blog ini, mohon maaf apabila ada kekurangan dan kata-kata dalam penulisan saya ini masih sangat berantakan. Maklum masih newbie lur heheheee
Langsung jaya, eh maksud e langsung saja berikut ceritanya. cekibrottt.........

Perjalanan “bis-bisan” ini sebenarnya adalah rencana dadakan, sesuai dengan judul yang ada diatas. Berawal dari rencana adik saya Rifki a.k.a Gendut yang akan bekerja di Jakarta, maka sesuai mandat dari Bapak dan Ibu tercinta terpilihlan saya untuk mengawalnya menuju Ibu Kota. (akhirnya setelah kurang lebih setahun puasa, moment yang ditunggu-tunggu tiba kembali hihiii)

SABTU, 11 FEBRUARI 2017
Sehari sebelum berangkat saya sempatkan membeli tiket di agen Delanggu, Klaten. Kenapa saya memilih beli disitu? Ya karena agen yang paling dekat rumah ya disitu wkekeke. Setelah browsing mbah gugel tentang bus malam yang menurut saya pas di hati dan juga di “kantong”, maka pilihan jatuh pada bus PO. Putera Mulya. and the one and only agen yang menjual tiket tsb di daerah Delanggu adalah Agen Rahayu Mbak Titik.

Sekitar jam 9 pagi berangkatlah saya dan adik saya menuju delanggu untuk membeli tiket. Setelah 10 menit perjalanan dan kebablasen sitik maka sampailah kami di agen. Tanpa ba bi bu be bo, saya langsung bertanya kepada bapak-bapak yang menjual. Setelah transaksi deal, akhirnya dapat juga mengantongi tiket sementara PO. Putera Mulya Patas Klaten – Jakarta seharga 135rb yang berangkat hari minggu 12 Februari 2017 jam 12 siang.


(Tiket sementara Putera Mulya Klaten – Jakarta)

MINGGU, 12 FEBRUARI 2017
Akhirnya hari yang ditunggu - tunggu datang juga. Setelah packing baju juga sangu snack beserta air minum dari pagi dan berpamitan kepada Ibu yang kebetulan pada hari itu jg mau ngetrip ke Semarang dalam rangka tilik anak tetangga, maka saya dan adik saya budhal dari rumah pada pukul 11 siang dengan diantar 2 orang teman kami (suwun ya lur muehehee). Sebelum sampai agen, alangkah baiknya kalau membeli bekal dulu untuk perjalanan nanti. Dikarenakan tidak dapat jatah makan dari bus dan kalau makan di restoran pasti harganya lumayan menguras kantong, jadi bisa ngirit dikit lah dengan nasi kotak berisi ayam goreng seharga 8,5rb ini.
Jam setengah 12 siang kami tiba di agen. Langsung saya tukarkan tiket sementara yang kemaren terbeli dengan tiket aslinya.


(Tiket asli PO. Putera Mulya)
Sebenarnya tujuan akhir saya adalah di Jatinegara, Jakarta Timur, namun karena peraturan pemerintah daerah yang baru maka pemberhentian akhir hanya sampai pada terminal Pulo Gebang saja. Yah gpp lah, masih bisa naik busway juga kok besok.

Kali ini saya bertemu langsung dengan Mbak Titik yang kemaren sedang ke Kartasura bersama suaminya untuk Kulakan tiket pesawat. Sedangkan bapak-bapak yang kemarin saya temui saat membeli tiket itu ternyata adalah saudaranya. Owalah....


(Mbak Titik beserta sang Suami)
Berikut no hp/wa Mbak Titik 085879062657, barangkali dari sekian banyak pembaca yang kebetulan rumahnya sekitaran Klaten khususnya Delanggu, jika ingin memesan tiket bus Putera Mulya atau bus lainnya bisa menghubungi no tsb karena fast respons sekali. Salut dah.......
Pukul 12 siang bus yang saya tunggu belum datang juga, Iseng-iseng sambil nunggu saya buka bbm dan pasang profil pict. dengan foto tiket yang barusan saya tukarkan tadi. Ndilalah teman saya yg bernama Dian Candra S. a.k.a Saprol langsung ngeping bbm saya dan bertanya mau kemana. Setelah obrolan bbm yang ramutu, akhirnya dia berniat untuk ikut saya dan adik untuk pergi ke Jakarta. Wealahh koclok tenan koe nde wkwkwkwk
Langsung saya tanyakan kepada agen apakah masih bisa tambah untuk pemberangkatan hari ini, dan jawabannya adalah bisa. Segera saya telpun Dian untuk segera kemas-kemas dan menuju kemari. Setelah kurang lebih 15 menit, konco koplak saya itu telah tiba dengan diantar bapaknya. lalu dia tukarkan tiket yang barusan saya pesan untuknya dengan uang 135rb. Perlu diketahui, Dian ini adalah Bus Traveler tapi biasanya hanya pergi ke Surabaya menggunakan bus Sugeng Rahayu andalannya.
Sekitar jam 1 siang bus jemputan kami datang, segera kami menyebrang jalan dan masuk bus Putera Mulya nomor body M02 bersama dengan Suami dari Mbak Titik yang mengantarkan kami menuju Terminal IR. Soekarno Klaten untuk pindah bus disana.

 
(Urut dari depan : Rifki a.k.a Gendut, Saya, dan Dian a.k.a Saprol)

 

(On board Putera Mulya M02)


(Selpi dulu lur wkekekeke)
Di dalam bus yang kami naiki ini, mas agen bercerita kalau bus ini akan dijual. Kalau dilihat memang sudah agak tua namun masih terawat dan interior juga masih bagus, masih layak lah untuk dijadikan bus parwis. Sekitar jam setengah 2 siang sampailah kami di terminal IR. Soekarno Klaten, langsung pindah menuju bus kami yaitu Putera Mulya no body P20 mesin Mercedes Benz berbalut karoseri Rahayu Santosa Celcius. Tapi saya tidak sempat hunfot dulu dikarenakan pak sopir langsung gass aja ini bus setelah semua penumpang naik. Luput luputtt
Lepas terminal Klaten mampir dulu di agen Bendogantungan untuk mengambil penumpang. Sebelumnya pas di bangjo berbarengan dengan bus Handoyo Jakartanan.

 

(Handoyo)
Bersama guyuran hujan yang sangat lebat, tiba-tiba kok kaki ini terasa teles ya? Waduh ternyata bus ini trocoh pemirsa alias bocor......
Sontak saja saya ambil tas ransel saya yang berada di bawah kursi karena tidak muat di bagasi atas. Waduh basah sedikit ternyata, tapi untung saja masih bisa terselamatkan. Penumpang yang lain pun protes, ada bapak-bapak yang bilang “bis bocor koyo ngene kok dinggo mlaku to pak?” .

 


(Bocor bocor bocor...)
Anyel juga dalam hati ini, ingin rasanya saya marani pak supir dan minta ganti bus Putera Mulya yang Double Decker. Tp itu hanya mitos dan MUSTAHIL lur wkwkwk.




Akhirnya setelah kurang lebih 1 jam ngetem di agen ini, bus berangkat juga dengan kondisi hujan deras dan becek di dalam kabin. Mumpung masih agak sepi saya sempatkan untuk foto-foto kondisi kabin bus. Dibalik kekurangan pasti ada kelebihan, dan beberapa kelebihan dari bus ini adalah seat yang longgar sehingga bisa slonjoran mania serta ac juga terasa dingin tapi tidak sedingin sikapnya kepadaku. Maaf keceplosan, malah cuhat ki lho. Duhdek...


(Seat beserta selimut, adem bener)




 

(Slonjoran)


(Rimba Kencana)
Pukul 6 sore kami saampai di daerah wates, karena seat depan masih kosong saya dan Dian pindah ke hotseat untuk melihat pemandangan yang lebih luas sembari jagongan kru bus. Katanya bus ini akan penuh setelah mengambil penumpang di Kebumen dan Purwokerto.

 

(Ora Ngeblong Ora Penak)
Jam menunjukkan pukul 7 malam, sampailah kami di Kebumen. Ada kejanggalan saat tiba di sini karena ada penumpang yang duduk di seat no 6C, seat tsb sama dengan seat teman saya. Nomor seat kami bertiga adalah 6A, 6B, 6C. Tapi saya tidak terlalu memusingkan hal ini, mungkin hanya salah baca nomor.
Namun setelah sampai Purwokerto, kok ada penumpang lagi yang baru naik bus nomor seatnya sama dengan adik saya, yaitu 6A. Langsung saya tanyakan hal ini kepada kru bus, ternyata memang benar nomornya 6A dan yang 6c tadi jg benar nomornya. Badalah kok tumpuk to pak? Mosok pangku-pangkunan lungguhe?
Mungkin ini adalah akibat dari kurangnya komunikasi antar agen dan PO. Bus, untuk kedepannya mohon untuk dibenahi agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini.
Akhirnya saya dan Dian a.k.a Saprol pun mengalah dan duduk di belakang, yaitu smoking area. Luput maning luput maning....
Di belakang kami berdua terpaksa menikmati perjalanan yang asyik ini. Kenapa asyik? Karena di belakang kami bertemu dengan penumpang yang asyik untuk diajak bercerita. Lumayan lah tombo gelo.
Dengan kondisi seat belakang yang moshing seperti nonton konser hatkor (maklum bus ini belum ber air suspension), ditambah jalur selatan yang terkenal dengan jalan jeglongan sewunya ini kami ber 4 (saya, Dian, dan 2 orang penumpang yang numpang udud) membunuh waktu dengan bercerita ngetan ngulon ngalor ngidul munggah midun. Halah!

SENIN, 13 FEBRUARI 2017
Singkat cerita sampailah kami di rest area Cipali. Setelah melewati perjalanan yang jalannya hancur lebur bagai hati seseorang yang ditinggal rabi pacarnya, istirahat di rumah makan yang saya tidak tau namanya karena sudah kebacut getun sampai tidak hunfot bus ini, dan sopir yang ngeblong asoy diiringi suara telolet khas Putera Mulya P20 (silahkan cek youtube), akhirnya sampailah juga di jalanan yang halus dan mulus. Alhamdulillah...
Di rest area bus kami kres dengan bus PUMA’S lain, yaitu bus impian saya Putera Mulya Double Decker line Wonogiri – Jakarta via jalur utara dan si Shd tanpa topi yaitu Putera Mulya MB 0500R 1830 line Klaten – Jakarta yang saya temui di terminal Klaten Kemarin.
Saya coba pejamkan mata sampai terminal Pulo Gebang nanti, lumayan untuk mengistirahatkan badan yang semalam suntuk bagai digulung ombak lautan Hawai.
Akhirnya sekitar jam 4 pagi sampailah kami di terminal terbesar se ASEAN ini, ya terminal Pulo Gebang, Bekasi , Cakung, Jakarta Timur. Kesan pertama saat sampai terminal ini adalah Besar, Mewah, Nyaman, tapi masih cenderung sepi. Mungkin karena masih pagi.
Sambil menunggu jemputan dari Bapak saya, kami sempatkan untuk jalan-jalan sebentar di terminal yang masih kinyis-kinyis ini. Hunfot time........

 

(Pulo Gebang 1)




(Pulo Gebang 2)

 

(Pulo Gebang 3)
Setelah turun 2 lantai, Adik saya dan Dian mengajak saya ngopi dulu agar mata juga badan bisa lebih dikondisikan untuk perjalanan selanjutnya. Kami pun ngobrol dengan Ibu-ibu yang berjualan di warkop, ternyata Ibu ini baik juga. Beliau dengan senang hati memberi tahu kepada penumpang yang kebingungan di terminal ini, entah itu mencari pintu keluar, mencari mushola, atau mencari shelter busway. Ntapsss bu...

 


(Ibu warkop baik hati)

 


(Kopi susu kupu-kupu)
Pukul 5 pagi Bapak saya datang juga, beliau dari kontrakan di Jatinegara naik busway. Setelah ngobrol sebentar di warkop (karena Bapak saya ingin ngeteh anget sebentar), maka kami segera menuju shelter busway di terminal ini. Butuh waktu sekitar 5 menit untuk sampai di halte, karena besar sekali terminal ini. Tapi lumayan juga untuk pemanasan di pagi ini muehehehe.
Dian a.k.a Saprol menyempatkan untuk membeli kartu busway, karena tujuannya di Jakarta adalah untuk Traveling dengan menggunakan bus, khususnya bus Trans Jakarta alias Busway. Dengan harga 40rb dan cukup biaya 2rb dari kartu untuk naik ke busway di pagi hari, sedangkan 3,5rb di siang hari, kita bisa puas keliling Kote Jakarte ini asalkan tidak meninggalkan halte (hanya transit) dan pindah busway tujuan lain sesuai kebutuhan. Mureh bener ye.....
Jam setengah 6 pagi, naikklah kami di busway yang masih baru dan adem bener lur acnya brrrrrrrr. Bus bermesin Scania dengan balutan Karoseri Tentrem ini siap menghantarkan anda semua untuk menuju tempat tujuan di seluruh kota Jakarta (asalkan punya kartu lho ya).

 

(Pamer kartu busway)

 


(Bolone pepi)

 


(Saprol dan Bapak gue)

 

(Dek Rifki a.k.a Gendut dolanan instagram)


 

(On board Busway)
Ada kejadian unik saat di busway ini, adalah seorang ibu yang berasal dari semarang kebingungan dan mumet karena di turunkan di terminal Pulo Gebang. Mungkin beliau belum tau kalau sekarang tujuan akhir bus dari Jawa adalah di terminal tsb. Kasihan juga sebenarnya, kenapa beliau yg sudah berumur pergi ke jakarta sendirian? Kemanakah anak atau saudaranya kenapa tidak mau menghantarkannya?
Di dalam bus, Ibu-ibu ini ngomel - ngomel tidak jelas dengan bahasa Jawa khas Semarangan. Dia berkata kepada kondektur busway “nek aku ra temu karo anakku, awas yo mas koe sing tak gondheli”, tak ayal perkataan dari sang Ibu itu malah mengundang tawa dari para penumpang busway. Sabar nggih bu....
Tetapi kondektur yang baik hati dan sabar itu terus menerangkan dengan ramah dan senyum kepada si ibu, kalau dia akan diberi catatan dan akan berkoordinasi dengan kru busway yang selanjutnya untuk menghantarkan Ibu tersebut sampai tujuannya di Jakarta Barat.
Setelah 1,5 jam berada di busway dengan macetnya jalanan Ibu Kota di pagi hari (pas dino senin lur) dan suk – sukan dengan penumpang lainnya, sampailah kami di halte Imigrasi dekat Lp Cipinang Jakarta Timur.
Setelah turun busway dan menyebrang jembatan penyebrangan, dengan kondisi yang kluwuk belum mandi ini kami masih melanjutkan perjalanan menuju kontrakan yang berjarak kurang lebih 500m.




 

(Mbolang Jekardah)
Akhirnya jam 7.30 waktu Indonesia Jakarta Timur, tibalah kami di kontrakan sederhana Bapak saya dan disambut dengan semangkok bubur ayam untuk memulihkan stamina serta energi yang terkuras habis setelah perjalanan panjang Klaten – Jakarta.

 

(Selamat makan...)
Berakhirlah sudah perjalanan koclok ini, ditunggu kritik dan sarannya. maturnuwun...

Kamis, 17 Desember 2015

Nama             : Hendi Sidiq Wicaksono
NIM               : 2015.3.0.0366
Jurusan           : SI (B3)


Jawaban Soal Uas PTI (Pengantar Teknologi Informasi) 


1. LTE (Long Term Evolution) adalah sebuah standar komukasi akses data nirkabel tingkat tinggi yang berbasis pada jaringan GSM/EDGE dan UMTS/HSDPA.
kita sebagai pelanggan masa kini tentunya membutuhkan koneksi jaringan internet yang lebih cepat dalam keperluan pekerjaan atau hal lain yang berhubungan dengan internet. maka dari itu kita dianjurkan untuk mengganti katu lama dengan yang baru agar dapat mendapatkan koneksi yang legih cepat dibandingkan kartu yang lama yang belum menggunakan teknologi 4G LTE. disamping itu perangkat yang kita gunakan juga harus sudah mendukung jaringan 4G, karena sama saja kalau perangkat yang digunakan masih 3G atau dibawahnya maka tidak akan berguna kartu baru tersebut. 

2. Menggunakan jaringan LAN (Local Area Network). karena masih berada pada sebuah gedung maka jaringan inilah yang paling cocok untuk menghubungkan beberapa komputer agar mudah berbagi data dan in formasi.
Topologi yang digunakan adalah Star/Bintang karena semua perangkat berada di sekitar area local atau disini disebut gedung dan terhubung pada sebuah perangkat sentral seperti Hub, Switch, atau Router.

3. Gambarannya sebagai berikut






Rabu, 09 Desember 2015

sekelias info saya Hendi Sidiq Wicaksono dari kelas SI/B3 STMIK DUTA BANGSA SURAKARTA sudah berhasil membuat blog sebagai tugas dari PTI