EDISI DADAKAN PERJALANAN BUS GOES TO JAKARTA WITH PUTERA MULYA P20, 12
FEBRUARI 2017
(Mukadimah)
Selamat datang di cerita
perjalanan yang perdana saya tulis di blog ini, mohon maaf apabila ada
kekurangan dan kata-kata dalam penulisan saya ini masih sangat berantakan.
Maklum masih newbie lur heheheee
Langsung jaya, eh maksud e langsung
saja berikut ceritanya. cekibrottt.........
Perjalanan “bis-bisan” ini
sebenarnya adalah rencana dadakan, sesuai dengan judul yang ada diatas. Berawal
dari rencana adik saya Rifki a.k.a Gendut yang akan bekerja di Jakarta, maka
sesuai mandat dari Bapak dan Ibu tercinta terpilihlan saya untuk mengawalnya
menuju Ibu Kota. (akhirnya setelah kurang lebih setahun puasa, moment yang
ditunggu-tunggu tiba kembali hihiii)
SABTU, 11 FEBRUARI 2017
Sehari sebelum berangkat saya
sempatkan membeli tiket di agen Delanggu, Klaten. Kenapa saya memilih beli
disitu? Ya karena agen yang paling dekat rumah ya disitu wkekeke. Setelah
browsing mbah gugel tentang bus malam yang menurut saya pas di hati dan juga di
“kantong”, maka pilihan jatuh pada bus PO. Putera Mulya. and the one and only agen yang menjual tiket tsb di daerah Delanggu
adalah Agen Rahayu Mbak Titik.
Sekitar jam 9 pagi berangkatlah saya dan adik saya menuju delanggu untuk membeli tiket. Setelah 10 menit perjalanan dan kebablasen sitik maka sampailah kami di agen. Tanpa ba bi bu be bo, saya langsung bertanya kepada bapak-bapak yang menjual. Setelah transaksi deal, akhirnya dapat juga mengantongi tiket sementara PO. Putera Mulya Patas Klaten – Jakarta seharga 135rb yang berangkat hari minggu 12 Februari 2017 jam 12 siang.
(Tiket
sementara Putera Mulya Klaten – Jakarta)
MINGGU, 12 FEBRUARI 2017
Akhirnya hari yang ditunggu -
tunggu datang juga. Setelah packing
baju juga sangu snack beserta air minum dari pagi dan berpamitan kepada Ibu
yang kebetulan pada hari itu jg mau ngetrip
ke Semarang dalam rangka tilik anak tetangga, maka saya dan adik saya budhal
dari rumah pada pukul 11 siang dengan diantar 2 orang teman kami (suwun ya lur
muehehee). Sebelum sampai agen, alangkah baiknya kalau membeli bekal dulu untuk
perjalanan nanti. Dikarenakan tidak dapat jatah makan dari bus dan kalau makan
di restoran pasti harganya lumayan menguras kantong, jadi bisa ngirit dikit lah
dengan nasi kotak berisi ayam goreng seharga 8,5rb ini.
Jam setengah 12 siang kami tiba
di agen. Langsung saya tukarkan tiket sementara yang kemaren terbeli dengan
tiket aslinya.
(Tiket asli
PO. Putera Mulya)
Sebenarnya tujuan akhir saya
adalah di Jatinegara, Jakarta Timur, namun karena peraturan pemerintah daerah
yang baru maka pemberhentian akhir hanya sampai pada terminal Pulo Gebang saja.
Yah gpp lah, masih bisa naik busway juga kok besok.
Kali ini saya bertemu langsung dengan Mbak Titik yang kemaren sedang ke Kartasura bersama suaminya untuk Kulakan tiket pesawat. Sedangkan bapak-bapak yang kemarin saya temui saat membeli tiket itu ternyata adalah saudaranya. Owalah....
(Mbak Titik
beserta sang Suami)
Berikut no hp/wa Mbak Titik 085879062657,
barangkali dari sekian banyak pembaca yang kebetulan rumahnya sekitaran Klaten
khususnya Delanggu, jika ingin memesan tiket bus Putera Mulya atau bus lainnya
bisa menghubungi no tsb karena fast
respons sekali. Salut dah.......
Pukul 12 siang bus yang saya
tunggu belum datang juga, Iseng-iseng sambil nunggu saya buka bbm dan pasang profil pict. dengan foto tiket yang
barusan saya tukarkan tadi. Ndilalah
teman saya yg bernama Dian Candra S. a.k.a Saprol langsung ngeping bbm saya dan bertanya mau kemana. Setelah obrolan bbm yang
ramutu, akhirnya dia berniat untuk ikut saya dan adik untuk pergi ke Jakarta. Wealahh koclok tenan koe nde wkwkwkwk
Langsung saya tanyakan kepada
agen apakah masih bisa tambah untuk pemberangkatan hari ini, dan jawabannya
adalah bisa. Segera saya telpun Dian untuk segera kemas-kemas dan menuju
kemari. Setelah kurang lebih 15 menit, konco
koplak saya itu telah tiba dengan diantar bapaknya. lalu dia tukarkan tiket
yang barusan saya pesan untuknya dengan uang 135rb. Perlu diketahui, Dian ini
adalah Bus Traveler tapi biasanya
hanya pergi ke Surabaya menggunakan bus Sugeng Rahayu andalannya.
Sekitar jam 1 siang bus jemputan
kami datang, segera kami menyebrang jalan dan masuk bus Putera Mulya nomor body
M02 bersama dengan Suami dari Mbak Titik yang mengantarkan kami menuju Terminal
IR. Soekarno Klaten untuk pindah bus disana.
(Urut dari
depan : Rifki a.k.a Gendut, Saya, dan Dian a.k.a Saprol)
(On board
Putera Mulya M02)
(Selpi dulu
lur wkekekeke)
Di dalam bus yang kami naiki ini,
mas agen bercerita kalau bus ini akan dijual. Kalau dilihat memang sudah agak
tua namun masih terawat dan interior juga masih bagus, masih layak lah untuk
dijadikan bus parwis. Sekitar jam setengah 2 siang sampailah kami di terminal IR.
Soekarno Klaten, langsung pindah menuju bus kami yaitu Putera Mulya no body P20
mesin Mercedes Benz berbalut
karoseri Rahayu Santosa Celcius. Tapi saya tidak sempat hunfot dulu dikarenakan pak sopir langsung gass aja ini bus setelah
semua penumpang naik. Luput luputtt
Lepas terminal Klaten mampir dulu
di agen Bendogantungan untuk mengambil penumpang. Sebelumnya pas di bangjo
berbarengan dengan bus Handoyo Jakartanan.
(Handoyo)
Bersama guyuran hujan yang sangat
lebat, tiba-tiba kok kaki ini terasa teles
ya? Waduh ternyata bus ini trocoh
pemirsa alias bocor......
Sontak saja saya ambil tas ransel
saya yang berada di bawah kursi karena tidak muat di bagasi atas. Waduh basah
sedikit ternyata, tapi untung saja masih bisa terselamatkan. Penumpang yang
lain pun protes, ada bapak-bapak yang bilang “bis bocor koyo ngene kok dinggo mlaku to pak?” .
(Bocor
bocor bocor...)
Anyel juga dalam hati ini, ingin
rasanya saya marani pak supir dan minta ganti bus Putera Mulya yang Double
Decker. Tp itu hanya mitos dan MUSTAHIL lur wkwkwk.
Akhirnya setelah kurang lebih 1 jam ngetem di agen ini, bus berangkat juga dengan kondisi hujan deras dan becek di dalam kabin. Mumpung masih agak sepi saya sempatkan untuk foto-foto kondisi kabin bus. Dibalik kekurangan pasti ada kelebihan, dan beberapa kelebihan dari bus ini adalah seat yang longgar sehingga bisa slonjoran mania serta ac juga terasa dingin tapi tidak sedingin sikapnya kepadaku. Maaf keceplosan, malah cuhat ki lho. Duhdek...
(Seat beserta
selimut, adem bener)
(Slonjoran)
(Rimba
Kencana)
Pukul 6 sore kami saampai di
daerah wates, karena seat depan masih kosong saya dan Dian pindah ke hotseat
untuk melihat pemandangan yang lebih luas sembari jagongan kru bus. Katanya bus ini akan penuh setelah mengambil penumpang di Kebumen dan
Purwokerto.
(Ora
Ngeblong Ora Penak)
Jam menunjukkan pukul 7 malam, sampailah
kami di Kebumen. Ada kejanggalan saat tiba di sini karena ada penumpang yang
duduk di seat no 6C, seat tsb sama dengan seat teman saya. Nomor seat kami
bertiga adalah 6A, 6B, 6C. Tapi saya tidak terlalu memusingkan hal ini, mungkin
hanya salah baca nomor.
Namun setelah sampai Purwokerto,
kok ada penumpang lagi yang baru naik bus nomor seatnya sama dengan adik saya,
yaitu 6A. Langsung saya tanyakan hal ini kepada kru bus, ternyata memang benar
nomornya 6A dan yang 6c tadi jg benar nomornya. Badalah kok tumpuk to pak? Mosok pangku-pangkunan lungguhe?
Mungkin ini adalah akibat dari
kurangnya komunikasi antar agen dan PO. Bus, untuk kedepannya mohon untuk
dibenahi agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini.
Akhirnya saya dan Dian a.k.a
Saprol pun mengalah dan duduk di belakang, yaitu smoking area. Luput maning luput maning....
Di belakang kami berdua terpaksa
menikmati perjalanan yang asyik ini. Kenapa asyik? Karena di belakang kami
bertemu dengan penumpang yang asyik untuk diajak bercerita. Lumayan lah tombo gelo.
Dengan kondisi seat belakang yang
moshing seperti nonton konser hatkor (maklum bus ini belum ber air
suspension), ditambah jalur selatan yang terkenal dengan jalan jeglongan sewunya ini kami ber 4 (saya,
Dian, dan 2 orang penumpang yang numpang udud) membunuh waktu dengan bercerita ngetan ngulon ngalor ngidul munggah midun.
Halah!
SENIN, 13 FEBRUARI 2017
Singkat cerita sampailah kami di
rest area Cipali. Setelah melewati perjalanan yang jalannya hancur lebur bagai
hati seseorang yang ditinggal rabi
pacarnya, istirahat di rumah makan yang saya tidak tau namanya karena sudah
kebacut getun sampai tidak hunfot bus
ini, dan sopir yang ngeblong asoy diiringi suara telolet khas Putera Mulya P20
(silahkan cek youtube), akhirnya sampailah juga di jalanan yang halus dan mulus.
Alhamdulillah...
Di rest area bus kami kres dengan
bus PUMA’S lain, yaitu bus impian saya Putera Mulya Double Decker line Wonogiri
– Jakarta via jalur utara dan si Shd tanpa topi yaitu Putera Mulya MB 0500R
1830 line Klaten – Jakarta yang saya temui di terminal Klaten Kemarin.
Saya coba pejamkan mata sampai
terminal Pulo Gebang nanti, lumayan untuk mengistirahatkan badan yang semalam
suntuk bagai digulung ombak lautan Hawai.
Akhirnya sekitar jam 4 pagi
sampailah kami di terminal terbesar se ASEAN ini, ya terminal Pulo Gebang,
Bekasi , Cakung, Jakarta Timur. Kesan pertama saat sampai terminal ini adalah
Besar, Mewah, Nyaman, tapi masih cenderung sepi. Mungkin karena masih pagi.
Sambil menunggu jemputan dari
Bapak saya, kami sempatkan untuk jalan-jalan sebentar di terminal yang masih kinyis-kinyis ini. Hunfot time........
(Pulo
Gebang 1)
(Pulo Gebang 2)
(Pulo
Gebang 3)
Setelah turun 2 lantai, Adik saya
dan Dian mengajak saya ngopi dulu agar mata juga badan bisa lebih dikondisikan
untuk perjalanan selanjutnya. Kami pun ngobrol dengan Ibu-ibu yang berjualan di
warkop, ternyata Ibu ini baik juga. Beliau dengan senang hati memberi tahu
kepada penumpang yang kebingungan di terminal ini, entah itu mencari pintu
keluar, mencari mushola, atau mencari shelter busway. Ntapsss bu...
(Ibu warkop
baik hati)
(Kopi susu
kupu-kupu)
Pukul 5 pagi Bapak saya datang
juga, beliau dari kontrakan di Jatinegara naik busway. Setelah ngobrol sebentar
di warkop (karena Bapak saya ingin ngeteh anget sebentar), maka kami segera
menuju shelter busway di terminal ini. Butuh waktu sekitar 5 menit untuk sampai
di halte, karena besar sekali terminal ini. Tapi lumayan juga untuk pemanasan
di pagi ini muehehehe.
Dian a.k.a Saprol menyempatkan
untuk membeli kartu busway, karena tujuannya di Jakarta adalah untuk Traveling dengan
menggunakan bus, khususnya bus Trans Jakarta alias Busway. Dengan harga 40rb
dan cukup biaya 2rb dari kartu untuk naik ke busway di pagi hari, sedangkan
3,5rb di siang hari, kita bisa puas keliling Kote Jakarte ini asalkan tidak
meninggalkan halte (hanya
transit) dan pindah
busway tujuan lain sesuai kebutuhan. Mureh
bener ye.....
Jam setengah 6 pagi, naikklah
kami di busway yang masih baru dan adem bener lur acnya brrrrrrrr. Bus bermesin
Scania dengan balutan Karoseri Tentrem ini siap menghantarkan anda semua untuk
menuju tempat tujuan di seluruh kota Jakarta (asalkan punya kartu lho ya).
(Pamer
kartu busway)
(Bolone
pepi)
(Saprol dan
Bapak gue)
(Dek Rifki
a.k.a Gendut dolanan instagram)
(On board
Busway)
Ada kejadian unik saat di busway
ini, adalah seorang ibu yang berasal dari semarang kebingungan dan mumet karena di turunkan di terminal
Pulo Gebang. Mungkin beliau belum tau kalau sekarang tujuan akhir bus dari Jawa
adalah di terminal tsb. Kasihan juga sebenarnya, kenapa beliau yg sudah berumur
pergi ke jakarta sendirian? Kemanakah anak atau saudaranya kenapa tidak mau
menghantarkannya?
Di dalam bus, Ibu-ibu ini ngomel
- ngomel tidak jelas dengan bahasa Jawa khas Semarangan. Dia berkata kepada
kondektur busway “nek aku ra temu karo
anakku, awas yo mas koe sing tak gondheli”, tak ayal perkataan dari sang
Ibu itu malah mengundang tawa dari para penumpang busway. Sabar nggih bu....
Tetapi kondektur yang baik hati
dan sabar itu terus menerangkan dengan ramah dan senyum kepada si ibu, kalau
dia akan diberi catatan dan akan berkoordinasi dengan kru busway yang
selanjutnya untuk menghantarkan Ibu tersebut sampai tujuannya di Jakarta Barat.
Setelah 1,5 jam berada di busway
dengan macetnya jalanan Ibu Kota di pagi hari (pas dino senin lur) dan suk –
sukan dengan penumpang lainnya, sampailah kami di halte Imigrasi dekat Lp Cipinang Jakarta
Timur.
Setelah turun busway dan
menyebrang jembatan penyebrangan, dengan kondisi yang kluwuk belum mandi ini kami masih melanjutkan perjalanan menuju
kontrakan yang berjarak kurang lebih 500m.
(Mbolang
Jekardah)
Akhirnya jam 7.30 waktu Indonesia
Jakarta Timur, tibalah kami di kontrakan sederhana Bapak saya dan disambut
dengan semangkok bubur ayam untuk memulihkan stamina serta energi yang terkuras
habis setelah perjalanan panjang Klaten – Jakarta.
(Selamat
makan...)
Berakhirlah sudah perjalanan koclok ini, ditunggu kritik dan sarannya. maturnuwun...
























thanks buat postingannya
BalasHapussiapp om
Hapus